Memperoleh Dividen dari Perusahaan Publik (Part 2)

Ketiga, pembayaran dividen dapat digunakan untuk menilai rasionalitas manajamen dalam melakukan value creation bagi pemegang saham. Sebelumnya saya sempat menjelaskan bagaimana cara menciptakan value bagi shareholder, yaitu dengan membayar dividen, melakukan buyback, dan melakukan ekspansi (baik secara organik maupun akuisisi). Jadi, menginvestasikan kembali keuntungan atau mengembalikannya dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham akan menunjukkan rasionalitas manajemen. Kemana keuntungan dialokasikan sangat berkaitan dengan fase siklus bisnis perusahaan (business life cycle) tersebut sedang berada, dan lagi-lagi disinilah rasionalitas manajemen diuji.

Di fase awal (development stage), biasanya perusahaan sering mengalami kerugian karena sedang membangun produk dan merintis pasar dan itu suatu hal yang wajar. Terus masuk ke fase berikut (growth stage) dimana penjualan mulai tumbuh secara cepat dan mulai mencetak laba, namun laba tersebut dirasa belum cukup untuk membiayai ekspansi usaha sehingga laba yang diperoleh cenderung diinvestasikan kembali (retained earning). Bahkan, seringkali perusahaan dalam fase ini harus berutang, khususnya bagi perusahaan dengan model bisnis ribet yang high capital requirements.

Selanjutnya perusahaan masuk ke fase kematangan (maturity stage) dimana pertumbuhan pendapatan mulai melambat namun arus kas terus meningkat dan menumpuk bahkan melebihi keperluan ekspansi dan kebutuhan operasional (capex). Terakhir perusahaan memasuki fase penurunan (decline stage), disini perusahaan mulai mengalami kontraksi pada pendapatan dan laba, namun masih terus mencetak kelebihan arus kas (free cash flow). Dengan melihat 4 fase tersebut, maka pada fase kematangan dan penurunan inilah (terutama di fase kematangan) muncul pertanyaan: kemanakah kelebihan arus kas sebaiknya dialokasikan???

Apabila dalam fase 3 dan 4 manajemen tetap mengambil keputusan untuk “menginvestasikan” sebagian laba tersebut, maka uang tersebut mau ditaruh di mana? Deposito? Atau paper asset lainnya?? Jika demikian, maka siap-siap saja perusahaan akan mengalami penurunan ROE dan ini tidak disukai oleh kebanyakan shareholder. Jika dirasa menginvestasikan kembali laba atau free cash flow tersebut merupakan hal yang mustahil karena size perusahaan sudah sangat besar dan ruang pertumbuhannya sudah tidak ada, maka manajemen memiliki 3 opsi lain, yaitu: membeli pertumbuhan baru lewat akuisisi bisnis; melakukan share buyback di saat harga sedang koreksi dalam dan valuasinya jadi murah; atau kembalikan kelebihan uang ini kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Disinilah kita harus teliti sebagai investor. Kita tentu akan menanti tindakan yang akan diambil oleh manajemen karena akan mencerminkan rasionalitas manajemen dalam berbisnis.

Jika manajemen memutuskan untuk mengakuisisi, maka salah satu tujuannya adalah untuk menghasilkan bisnis baru di luar skala bisnis yang ada. Akuisisi ini merupakan bagian dari pengembangan usaha yang berkesinambungan agar perusahaan bisa melanjutkan pertumbuhan kinerjanya. Namun aktivitas ini cenderung kurang disukai oleh kebanyakan investor (termasuk saya), karena akuisisi menggambarkan perusahaan yang kurang pede dengan bisnis atau produknya sendiri dan dapat menimbulkan spekulasi apabila perusahaan mengakuisisi bisnis di luar bidang keahliannya selama ini (diworsification).

Namun, apabila perusahaan mengakuisisi dengan tujuan mencapai integrasi usaha secara vertikal untuk mempermudah memperoleh bahan baku, memperluas distribusi pemasaran dan ekspor serta bisnis yang diakuisisi masih dalam core bisnis perusahaan, maka akuisisi tersebut sifatnya sangat positif. Lalu, pastikan pula pihak manajemen sudah memperhitungkan valuasi yang wajar terhadap perusahaan yang akan diakusisi, seperti yang dilakukan $SMSM saat mengakuisisi perusahaan asal Malaysia, Bradke Syenergies Sdn Bhd.

Oke, jadi apakah opsi yang paling rasional untuk mengembalikan kelebihan uang kas kepada pemegang saham? Menurut saya adalah dengan cara share buyback atau membagikan dividen. Dua-duanya adalah opsi yang sangat menarik, dan saya yakin banyak investor juga suka dengan hal ini. Tapi perlu diperhatikan, apakah perusahaan melakukan buyback sesuai kebutuhan atau memang di saat harga di pasar sedang drop? Jika membagikan dividen, coba periksa lagi apakah memang betul perusahaan sudah dalam fase matang sehingga memang perlu untuk membagikan semuanya dalam bentuk dividen (tidak memerlukan retained earning)?

by Dt. Rajo Pangulu