Memahami Indikator ROIC: Return On Invested Capital

Memahami Indikator ROIC Return On Invested CapitalAda 2 kriteria yang harus dipenuhi oleh high quality companies, mencakup soft criteria (elemen kualitatif) dan hard criteria (elemen kuantiatif). Beberapa indikator pengukuran dalam soft criteria tidak tertera dalam laporan keuangan, ia membutuhkan penyelidikan menggunakan scuttlebutt sebagaimana yang telah saya ceritakan di tulisan ini https://stockbit.com/post/3579709. Ada 6 Indikator dalam soft criteria yang saya gunakan dan semuanya itu merupakan atribut penting, antara lain model bisnis yang sederhana; menghasilkan consumable products; memiliki competitive advantage; manajemen yang rasional; manajemen yang berperilaku layaknya owner; dan manajemen yang berintegritas dan berkompeten.

Sedangkan dalam hard criteria, kita hanya membutuhkan 1 sumber, yaitu laporan keuangan. Setiap angka yang tercatat dalam laporan keuangan dapat mengonfirmasikan atau membenarkan analisis pada soft criteria yang kita lakukan sebelumnya melalui scuttlebutt. Pada tulisan ini, saya akan membahas tentang indikator yang paling saya suka dan terpenting dari elemen kuantitatif, yaitu Return On Invested Capital (ROIC). Tidak hanya saya, investor-investor hebat juga menjadikan ROIC sebagai metric keuangan andalan. Simak pendapat mereka:

“What we really want to do is buy a business that’s a great business, which means that business is going to earn a high return on capital employed for a very long period of time, and where we think the management will treat us right.” (Warren Buffett)

“If you plan to hold a share for the long term, the rate of return on capital it generates and can reinvest at is far more important than the rating you buy or sell at.” (Terry Smith)

“We also require companies to have extremely high returns on capital, which we define as 20% or more sustainably.” (Daniel Davidowitz)

“It’s not P/E’s that matter, or profit margins on sales, but how much a business earns on the capital invested in it. I think [estimating] return on incrementally invested capital is one of my most important jobs, i.e assessing how well the management teams and boards are keeping our portion of profits we are not receiving as dividends” (Christopher Bloomstran)

“Return on capital is probably the single biggest measure that I feel one has to look at. Valuations comes a distant second or third.” (Rajiv Jain)

“Very simply, we are trying to find businesses that exhibit three characteristics: predictable long-term growth, high returns on invested capital and well established, sustainable barriers to competition.” (Brian Vollmer)

Bukanlah hal yang rumit untuk memahami ROIC. Ini adalah rasio keuangan yang menginformasikan berapa banyak keuntungan yang dihasilkan perusahaan dengan memanfaatkan modal yang telah diinvestasikan. Semakin tinggi rasio ROIC, maka itu menggambarkan sebuah perusahaan yang hebat. Jika bisnisnya sederhana dengan menghasilkan produk yang akan selalu dibutuhkan, ditambah ia memiliki keunggulan yang sulit ditiru oleh pesaingnya, serta dikelola oleh orang-orang yang hebat, maka sungguh aneh jika ROIC yang dihasilkannya rendah.

Perusahaan yang bergerak di bisnis yang sederhana tentunya memiliki aset yang ringan dan dengan rantai proses bisnis yang pendek, perusahaan tidak membutuhkan suntikan modal yang terlalu besar (low capital requirements). Consumable product yang mereka hasilkan ditambah brand produknya begitu kuat, itu dapat menjamin recurring income sehingga net profit atau net operating cashflow yang diterima perusahaan berpotensi lebih besar dibandingkan kebutuhan cash yang dikonsumsinya, antara lain untuk biaya operasional dan capital expenditure. Inilah yang mendorong ROIC yang tinggi dari tahun ke tahun, bukan yang tinggi pada tahun-tahun tertentu saja saat siklusnya sedang bagus.

Jika perusahaan dikelola oleh manajemen yang hebat, maka itu adalah tambahan keuntungan yang sangat baik. Manajemen yang rasional akan berhati-hati untuk mengalokasikan modal yang dipercayakan kepada mereka untuk membiayai aset-aset agar lebih produktif. Apalagi manajemen memiliki saham perusahaan dalam jumlah besar sehingga mereka memiliki mindset seperti pemilik perusahaan itu sendiri dan lebih fokus pada kinerja bisnis perusahaan dibandingkan memikirkan kenaikan gaji dan bonus apalagi kenaikan harga saham perusahaan dalam jangka pendek. Hal ini juga akan mendorong ROIC perusahaan pada level yang tinggi. Memang ROIC lebih dari sekedar profitability ratio, ia juga merupakan ‘management effectiveness ratio’.

Sebaliknya, jika perusahaan bergerak di bisnis yang ribet dengan proses bisnis yang ngejelimet, mereka membutuhkan suntikan modal yang besar (high capital requirements) untuk tetap hidup. Apalagi perusahaan menghasilkan produk yang sifatnya durable yang masa pakainya panjang, atau bisa juga sifat produknya itu comodity based, dimana perusahaan tidak bisa menentukan harganya sendiri karena ada harga acuan sehingga berdampak pada inkonsistensi kinerja.

Apa yang anda harapkan dengan perusahaan yang tidak bisa menentukan nasibnya sendiri? Tentu saja revenue yang mereka terima tidak bisa stabil apalagi untuk terus tumbuh konsisten, karena kinerja mereka lebih dipengaruhi oleh faktor dari eksternal. Ketika siklus perekonomian dan industrinya lagi bagus, bisa saja mereka mencatatkan ROIC yang lumayan tinggi. Tapi, jika siklusnya berbalik arah, maka jangan heran ROIC nya langsung jeblok. Apalagi, udah bisnisnya ribet, manajemennya juga brengsek. Alamak, kalo sudah begini mending sahamnya dipake buat judi saja lah.

Beruntunglah shareholder yang memiliki perusahaan yang memiliki kualitas bisnis dan manajemen yang baik. Dapat dipastikan, jika bisnis perusahaan kualitasnya bagus, manajemennya mampu mengelola modal secara efektif dan efisien, maka setiap keuntungan yang diraih nilainya relatif besar dibandingkan modal yang diinvestasikan.

Perusahaan dengan ROIC yang tinggi akan memberikan kepuasan bagi shareholdernya dalam jangka panjang, karena ia merupakan indikator penting dalam value creation. Sedangkan perusahaan dengan kualitas bisnis yang buruk, dikelola oleh manajemen yang busuk serta ROIC yang dihasilkannya juga rendah, maka perusahaan semacam ini tidak akan meningkatkan value shareholders dalam jangka panjang, meskipun kita membelinya dengan valuasi yang murah.

by Dt. Rajo Pangulu