Memahami Indikator ROIC: Return On Invested Capital (Part 2)

Jangan anda terlena dengan prestasi manajemen yang hanya mampu meningkatkan EPS growth dari tahun ke tahun. Anda harus tanyakan, growth tersebut dihasilkan pada rate of return berapa persen bung? Berapa ROIC nya? Jika EPS growth dihasilkan dari ROIC yang hanya 6%, lebih baik seluruh modal yang dikelola oleh manajemen itu ditempatkan ke deposito. Dengan bunga yang sama (6%), deposito jelas lebih menjamin keamanan dan pasif income.

Perusahaan dengan ROIC rendah sebaiknya lebih berusaha untuk meningkatkan ROIC daripada mengejar growth. Karena tanpa ROIC yang tinggi, maka sulit pula bagi perusahaan untuk memperoleh akses dana yang mereka butuhkan demi mendanai growth. Perusahaan yang bisa menghasilkan keuntungan namun membutuhkan basis modal yang besar, maka kedepannya perusahaan berpotensi untuk menambah utang baru, atau yang lebih parah mereka akan meminta tambahan modal dari pemegang saham.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena mereka tidak memiliki sumber tambahan modal yang cukup untuk mendanai ekspansi. Jadi penting bagi kita untuk selain melihat ROIC yang tinggi, pastikan pula manajemen terus berkomitmen untuk menginvestasikan kembali sebagian laba yang diperoleh, sehingga terciptalah compounding machine. Setiap kelebihan dana yang diinvestasikan kembali tentu saja akan meningkatkan shareholder value dalam jangka panjang.

Jika ditanya, mengapa saya lebih memilih ROIC, bukan ROE? Memang ROE lebih mudah dihitung, karena hanya memperhitungkan returns terhadap equity saja. Namun, informasi yang diberikan ROIC lebih menyeluruh karena menghitung return terhadap seluruh modal yang telah diinvestasikan ke dalam working capital dan juga fixed assets, baik yang berasal dari ekuitas maupun utang jangka panjang. Untuk komponen returns disini saya menggunakan EBIT atau laba operasional, dan ini opsional.

Anda boleh saja menggunakan laba bersih. Penggunaan ROE juga lebih sering digunakan oleh kebanyakan investor, namun dalam menghitungnya investor harus jeli untuk memeriksa darimana asal tingginya ROE. Beberapa perusahaan bisa saja memiliki ROE yang tinggi namun dengan penggunaan utang yang lebih besar dibandingkan ekuitasnya. Utang yang proporsinya terlalu besar juga sesungguhnya kurang baik dan juga perusahaan dengan DER yang lebih dari 1 itu bukalah high quality companies, setinggi apapun ROE nya.

Inilah salah satu alasan saya memilih $EKAD $SIDO $SMSM dan masih mempertahankannya hingga sekarang. Ketiga perusahaan tersebut memiliki ROIC secara average 5 yr di atas 15%, serta memenuhi 6 kriteria kualitatif yang saya tetapkan:

1. Ketiga perusahaan bergerak di bisnis yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga mereka tidak membutuhkan modal yang besar untuk menggerakan bisnis dan memperoleh keuntungan;
2. Ketiga perusahaan menghasilkan produk atau jasa yang consumable, dibutuhkan atau diinginkan, dan tidak mengalami banyak perubahan dari dulu dan di masa yang akan datang sehingga dapat menjamin recurring income;
3. Ketiga perusahaan memiliki prospek jangka panjang dengan memiliki competitive advantage: 1. Corporate culture yang sehat; 2. Mencapai skala ekonomis; 3. Kekuatan marketing serta jaringan distribusi, 4. Kualitas intangible assets (goodwill, brand, intellectual property, licensing, innovation)
4. Manajemen ketiga perusahaan rasional dalam mengalokasikan modal, mengendalikan biaya sehari-hari dari setiap divisi, menetapkan strategi jangka panjang, menciptakan sistem pemasaran yang kuat, dan memperkerjakan dan menjalin hubungan yang baik dengan para karyawan;
5. Manajemen ketiga perusahaan bertindak selayaknya pemilik perusahaan dengan turut memiliki sebagian saham dalam porsi besar, bahkan CEO dari ketiganya merupakan foundernya sendiri;
6. Manajemen ketiga perusahaan memiliki integritas dan kejujuran, serta memiliki pengalaman dalam industri sehingga mereka memiliki pemahaman yang rinci terhadap bisnis perusahaan.

Saya meyakini saat sebelum membeli sahamnya, bahwa 3 perusahaan ini memenuhi keenam poin soft criteria sebagai high quality companies. Dan benar saja, kinerja keuangannya memvalidasi dengan salah satunya menghasilkan ROIC yang tinggi. Selain itu, ketiga perusahaan masih memiliki ruang untuk terus tumbuh sehingga manajemen menyisihkan sebagian laba perusahaan untuk diinvestasikan kembali disamping mereka juga tidak pernah absen membagikan dividen.

Hingga saat ini, saya belum ada niat dan pikiran untuk menjual ketiganya, karena sekali lagi saya meyakini dengan memegang saham perusahaan yang ROIC nya tinggi dan terus bertahan bersama mereka akan memberikan hasil yang memuaskan dalam jangka panjang.

Ini juga menjadi alasan mengapa para investor-investor hebat lainnya seperti Philip Fisher, Warren Buffet, Charlie Munger, dan Terry Smith merasa enggan untuk menjual perusahaan hebat dengan kualitas atau ROIC yang tinggi. Sebagimana pernyataan Buffet: “Time is the enemy of the poor business, and it’s the friend of the great business. I mean if you have a business that’s earning 20 or 25 percent on equity, and it does that for a long time, time is your friend”.

Jadi saudara2, inilah alasan mengapa ROIC begitu penting untuk mengukur kualitas suatu perusahaan. Namun perlu diperhatikan bahwa laba operasional yang dihasilkan perusahaan memang betul-betul berupa uang cash yang real. Untuk hal ini anda juga perlu untuk memperhatikan laporan arus kas lalu bandingkan angka pada “kas yang diperoleh dari aktivitas operasi” dengan angka pada “laba operasional” pada laporan laba rugi. Pastikan angkanya tidak berbeda jauh (lebih baik jika kas yang diterima lebih tinggi).

Selain itu, ROIC juga merupakan “historic measure”. Artinya anda harus melihat ROIC secara historikal dengan melihat data masa lalu atau mengevaluasi apakah perusahaan menghasilkan ROIC yang tinggi secara konsisten dan stabil. Untuk dapat meraih prestasi ini, maka perusahaan harus memenuhi 5 kriteria kualitatif, antara lain bisnis yang sederhana, produk yang consumable, manajemen yang rasional, manajemen yang think like an owner, serta manajemen yang berintegritas.

Selain memeriksa data lampau, anda juga harus dapat meyakini bahwa ROIC ini akan terus tinggi di masa yang akan datang secara konsisten. Untuk hal ini, maka ada 1 kriteria kualitatif yang harus dipenuhi agar perusahaan dapat terus menghasilkan ROIC yang tinggi, yaitu Competitive Advantage yang bisa anda baca di sini https://stockbit.com/post/3656603.

Sebagian investor ada juga yang lebih mementingkan aspek sales atau EPS growth sebagai indikator value creation, dan ini tidak salah juga. Namun perlu diingat bahwa ada faktor eksternal seperti perekonomian global yang bisa melemah kapanpun yang dapat mengakibatkan perusahaan menghadapi tantangan besar untuk tumbuh. Masalah terbesar yang mungkin akan dihadapi perusahaan adalah terjadinya pelemahan permintaan, sehingga dalam beberapa kasus growth perusahaan menjadi stagnan.

Seringkali, kesuksesan suatu bisnis mengacu pada growth. Namun, dengan perekonomian yang sedang gonjang ganjing seperti saat ini, apakah fokus masih ada pada growth? Untuk beberapa sektor, mungkin growth masih memungkinkan, namun untuk sebagian perusahaan yang bergerak di bisnis cyclical, marjinal, ribet, maka growth nya tidak stabil, naik turun, bahkan sangat mungkin menjadi negatif. Oleh karena itu, investor sebaiknya lebih fokus kepada indikator kinerja lain.

Apa itu? Ya apalagi kalo bukan ROIC, salah satu rasio yang dihitung dengan mencomot angka pada 2 komponen dalam laporan keuangan (balance sheet dan income statement), yang berarti ini bisa menginformasikan kepada kita bahwa perusahaan memiliki strong balance sheet sekaligus profitable.

by Dt. Rajo Pangulu