Beberapa Kesalahan Yang Biasa Dilakukan Oleh Para Investor Saham

Pernahkah anda menyaksikan sebuah pertandingan, katakanlah pertandingan badminton lalu menemukan bahwa seorang atlet peringkat 1 dunia bisa dikalahkan oleh atlet yang peringkatnya jauh di bawahnya?? Jika diperhatikan, kekalahan sang number 1 bukan disebabkan oleh skill yang dimiliki oleh sang lawan, tapi seringnya kesalahan yang dilakukan oleh sang master dan terlalu meremehkan lawannya mengakibatkan ia akhirnya kalah secara memalukan.

Dalam hal apapun, sebisa mungkin kita hindari melakukan kesalahan. Dan kalau kita pernah salah, jadikan kesalahan itu sebagai pelajaran berharga dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut berkali-kali. Ingat akan satu pepatah, dimana salah satu guru terbaik dalam hidup kita adalah pengalaman. Orang-orang besar dan sukses yang pernah kita tahu tentulah mereka banyak belajar dari kegagalan dan pengalaman pahit yang dialaminya. Lalu, ketika gagal mereka tidak menyerah dan terus berlari mengejar tujuannya.

Sama halnya dalam berinvestasi saham. Setiap kita pasti pernah mengalami kesalahan, termasuk saya. Sebutkan nama-nama investor hebat yang anda ketahui, diantara nama-nama terkenal tersebut pastilah mereka pernah mengalami kesalahan yang menyakitkan, dimana kalau dipikir-pikir kesalahan yang mereka lakukaan itu lebih pahit efeknya dibandingkan kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan selama ini.

Salah satu nasihat dari Charlie Munger jika anda ingin sukses berinvestasi saham adalah:

It is remarkable how much long-term advantage people like us have gotten by trying to be consistently not stupid, instead of trying to be very Intelligent.

Coba resapi baik-baik kalimat tersebut, kita bisa menganggap bahwa berinvestasi saham memang tidak terlalu memerlukan kecerdasan yang luar biasa. Orang yang secara konsisten tidak melakukan kesalahan biasanya lebih berhasil dibandingkan mereka yang memiliki ilmu yang canggih tentang investasi.

Oke, sebetulnya bukan tidak pernah melakukan kesalahan, tapi bagaimana setiap melakukan kesalahan lalu kita ambil pelajaran darinya. Saya bisa merasakan kesuksesan berinvestasi saham bukan hanya karena saya memiliki pemahaman, disiplin dan kesabaran, tapi saya juga banyak belajar baik dari kesalahan saya sendiri maupun kesalahan mahal yang dibuat orang lain.

Saya belajar dari kesalahan Ben Graham, Warren Buffet, Peter Lynch, dan beberapa investor senior lainnya yang saya temui di forum ini. Dan percaya saya, itu sangat membantu untuk kita. Thanks kepada mereka yang tidak malu-malu menceritakan kesalahannya kepada kita. Kali ini saya coba uraikan beberapa kesalahan yang biasa dilakukan oleh para investor, termasuk yang pernah saya lakukan juga:

1. Hanya Terpaku pada Satu Saham
Hal ini akan menjadikan seorang investor menjadi tidak rasional dalam menilai sahamnya. Saat seorang investor terlalu jatuh cinta kepada sebuah saham, ia pun cenderung mengabaikan hal buruk tentang saham favoritnya ini, artinya dia hanya ingin mendengar hal baik saja (confirmation bias). Saya sendiri menerapkan portofolio yang fokus, tapi tetap saja saya tidak menganjurkan untuk hanya memiliki satu saham saja dan terlalu jatuh cinta padanya. Minimal saham yang saya miliki dalam portofolio itu jumlahnya 3 perusahaan, yang bergerak di industri yang berbeda-beda sebagai penyeimbang atau backup.

2. Tidak Paham Sisi Fundamental
Fundamental perusahaan seharusnya menjadi analisis mendasar dalam mengambil keputusan untuk membeli sebuah saham perusahaan. Sayangnya banyak investor lebih suka melihat tren sesaat dalam analisis teknikal. Dan sayangnya lagi, banyak investor yang menganggap bahwa analisis fundamental hanya berupa analisis pada laporan keuanga saja.

Saya sudah pernah menyampaikan, bahwa sebelum mengambil keputusan untuk membeli suatu saham, pastikan kita sudah melakukan tahapan analisis yang mencakup pada analisis bisnis, analisis manajemen, analisis keuangan, lalu terakhir adalah menghitung valuasinya. Hal ini dikarenakan saham bukanlah hanya sekedar kertas, dibalik saham itu ada underlying truth atau perusahaan yang menerbitkan saham-saham tersebut.

Makanya kita perlu memiliki pemahaman terhadap cara kerja suatu bisnis dan mau mencari tahu track record pengelola perusahaan tersebut. Setelah itu barulah kita periksa laporan keuangannya dan menghitung berapa harga wajar saham tersebut. Ingat ya, dalam jangka panjang nilai saham anda itu ditentukan oleh kinerja fundamental perusahaan, tidak ada hal lain.

3. Gagal Paham mengenai Risiko
Saya ingin mengajak anda menilai kembali pandangan akan risiko dalam berinvestasi saham. Saya yakin, kebanyakan pelaku pasar menganggap yang dimaksud risiko saham yang tinggi adalah fluktuasi harganya yang sangat tidak pasti dan nggak jelas kapan terjadinya. Saya sepakat dan paham bahwa ini merupakan salah satu risiko yang melekat pada saham dan itu sangatlah mempengaruhi suasana hati para pelaku pasar.

Pokoknya kalo harga saham sudah turun dalam, maka itu dianggap suatu kerugian yang sangat memilukan. Padahal anda baru dikatakan rugi jika anda telah menjual saham yang turun tersebut. Lalu, ada risiko lain dan menurut saya inilah risiko sesungguhnya bagi seorang investor saham. Yaitu risiko perusahaan yang kita miliki sahamnya mengalami kebangkrutan atau dilikuidasi.

Kalau sudah begini, bisa-bisa kita kehilangan seluruh uang kita. Maka demikian, penting bagi kita untuk memahami risiko yang mungkin terjadi dan memitigasinya. Saya pernah sharing mengenai cara memitigasi company risk, yaitu membeli perusahaan berkualitas di harga yang wajar lalu hold dalam jangka panjang.

4. Terjebak Saham Murah, Padahal Tidak Potensial
Banyak investor pemula salah memahami strategi value investing atau buy low sell high. Mereka memburu saham yang dihargai harga murah namun sejatinya memang saham tersebut berasal dari perusahaan yang tidak bagus (saham murahan). Kesalahan ini pernah dialami oleh Warren Buffet saat membeli saham Berkshire Hathaway. Saya pernah mengatakan bahwa Margin of Safety (MoS) diperoleh bukan hanya dengan membeli saham yang undervalued (cheap price), tapi juga memperhatikan kualitas yang dimiliki perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.

5. Takut Membeli Saham Saat Pasar Turun
Kondisi ekonomi bergerak secara siklus, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Saat perekonomian bagus, bursa saham bergairah dan mengangkat harga saham naik (bullish). Sayangnya, banyak investor lebih menyukai membeli saham saat pasar bullish. Sebaliknya, saat ekonomi memburuk seperti yang kita alami dimasa pandemi ini, kebanyakan investor merasa pesimis, lesu, mulas, kepala cenat-cenut dan lain sebagainya.

Hal ini diikuti oleh aksi jual di harga rendah secara berjamaah sehingga harga saham pun menjadi bearish akut. Jika kita lihat dengan seksama, pasar yang bearish menawarkan kesempatan investasi untuk membeli perusahaan berkualitas bagus dengan harga murah. Inilah yang saya alami saat pertama kali masuk ke pasar modal di akhir 2015 lalu.

6. Terjebak Transaksi Jangka Pendek
Banyak yang mengaku sebagai investor, namun gemar melakukan transaksi dalam jangka pendek. Beli sekarang, lalu 6 bulan kemudian dijual lagi. Atau beli sekarang untuk niat dijual 3 tahun lagi. Alasan menjual bermacam-macam, kebanyakan gak tahan melihat harga yang sudah naik puluhan persen. Mungkin ada yang awalnya sebelum memulai berinvestasi, dalam hati sudah berniat “saya akan membeli saham lalu memegangnya minimal selama 5 tahun”. Namun pada akhirnya gak mampu menahan godaan disaat pasar sedang euforia sesaat, akhirnya saham tersebut dijual. Dan ternyata, harganya masih terus naik dan penyesalan pun akhirnya datang. “Coba gue pegang nih saham sampe sekarang, duit gue udah sekian juta nih”. Saya sering menemukan banyak orang yang takut untung besar dan sangat berani untuk rugi besar pula. Anda paham kan maksud saya hehe.

7. Tidak Peduli Portofolio
Ada kejadian investor yang membeli suatu perusahaan dan sengaja membiarkannya dalam jangka panjang dan setelah beberapa tahun kemudian perusahaan itu sudah besar dan sahamnya profit. Sekilas investasi seperti ini memang menenangkan, namun sejatinya bukan suatu cara berinvestasi yang bagus. Saya sering mengatakan “buy and hold”, bukan “buy and forget”. Itu dua hal yang berbeda.

Seberapa yakin anda terhadap kualitas perusahaan yang sahamnya anda miliki, Anda harus memonitor kondisi perusahaan secara berkala. Tujuannya adalah jika suatu saat perusahaan yang Anda miliki semakin bagus kinerjanya, maka Anda bisa menambah posisi sehingga potensi keuntungan dalam jangka panjang semakin baik dan jika perusahaan mengalami masalah yang tidak terduga, maka Anda tidak terlambat mengambil keputusan untuk melepasnya

8. Mengandalkan Analisa Orang Lain
Teknologi memudahkan kita dalam berkomunikasi, salah satunya dalam hal memperoleh berbagai tips dan analisa terhadap suatu perusahaan. Namun, belum tentu tips dan analisa orang lain itu sesuai dengan rencana dan suasana hati kita. Kita boleh saja memiliki mentor, tapi dalam hal analisa, percayalah pada analisa sendiri. Jangan pernah mencoba membeli suatu saham karena ada orang yang kita nilai handal membeli saham itu juga.

Kita tidak pernah tau jika sewaktu-waktu orang yang kita ikuti tersebut menjual sahamnya karena menyadari ada yang tidak beres dan tidak memberitahukan hal itu kepada anda. Jadi, mandirilah kawan-kawan. Tips dan analisa orang lain jadikan sebagai bahan pertimbangan saja, jangan dijadikan satu-satunya alasan untuk mengambil keputusan.

Jadi, itulah kira-kira beberapa kesalahan yang sering kita temui yang dialami oleh para investor.

Tetap semangat dan optimis selalu!

by Dt. Rajo Pangulu