Pilih Jadi Trader atau Investor Saham?

Akhir-akhir ini terlihat banyak investor baru di bursa saham sebagai dampak dari WFH (work from home) atau PHK dan pensiun dini. Tulisan ini adalah sekedar sharing pengalaman dan pendapat pribadi. Bagi newbie apalagi yang baru terkena PHK mungkin tulisan ini cocok untuk menentukan pilihan apakah ingin full time di bursa saham atau tidak. Pilih jadi trader atau investor saham?

Dulu sebelum saya menjadi penabung saham yang mengejar dividen untuk mendapatkan passive income, saya melakukan trading berdasarkan analisa teknikal. Pernah untung, pernah pula rugi atau nyangkut. Karena tidak melakukan analisa fundamental, pernah kejeblos di saham TAXI sampai gocap harganya. Waktu itu saya belum belajar analisa fundamental.

Kini saya ingin mengejar passive income dari dividen, oleh karena itu saya cenderung menjadi penabung saham dari pada trader, untuk itu saya harus belajar analisa fundamental. Nanti akan saya bahas apa dasar pertimbangan untuk menjadi trader atau atau penabung saham pengejar passive income dari dividen.

Dulu, sewaktu saya beraktivitas sebagai trader, kadang floating profit 3% dalam waktu 1 atau 2 hari sudah saya realisasikan. Saya sadar yang saya beli itu tidak dianalisa fundamentalnya, hanya berdasarkan teknikal. Makanya kadang-kadang buru-buru take profit. Tapi saat ini, saat saya mengejar passive income dari dividen kadang floating profit 70% tetap saya biarkan. WEGE saya pernah floating profit (fp) sampai 70%, BDMN pernah sampai 75%, MYOH pernah fp sampai 60%, bluechip seperti BBRI pernah fp sampai di atas 30%. Bahkan yang terbaru MLPT pernah fp sampai lebih dari 200% atau 2 bagger.

Mengenai, MLPT sebenarnya saya bersikap hati-hati dengan Group L ini. Maka dalam daftar 30-an Emiten High Dividend Yield tidak saya masukkan. Yang saya masukkan adalah LPGI itupun saya beri catatan agar berhati-hati. Alasan saya membeli MLPT adalah ada kabar bahwa Group L akan fokus ke bisnis properti dan medis. Maka bila pemegang saham pengendali (PSP) berubah mungkin “karakter” corporate-nya akan berubah.

Selain itu juga karena rasa penasaran agar bisa ikut RUPS. Sebagai orang marketing, saya merasa kurang puas kalau tidak pernah tatap muka langsung dengan pengurus perusahaan yang sahamnya saya beli. Namun pandemi covid membuyarkan rencana saya untuk mengikuti berbagai RUPS. Sulit membaca psikologi orang dalam kondisi pakai masker. Banyak RUPS 2020 yang tidak saya ikuti termasuk MLPT.

Maka ketika tabungan MLPT saya mendekati hari ex date tanggal 11 Juni, saya cenderung melepasnya semua. Apalagi saya butuh dana untuk membeli saham lain. Saat cum date tanggal 10 Juni harganya pernah mencapai 1450 tapi cepat berbalik dan akhirnya saya putuskan jual di 1260 harga terendah di hari itu, itu pun harus antri lebih dari satu jam. Capital gain sebesar 177,5% itu adalah capital gain MLPT dari saham yang tersisa. Sebagian MLPT milik saya sudah saya jual saat sebelum RUPS dengan capital gain 4%-an. Saat itu saya butuh dana untuk nyicil membeli BMRI.

Average price MLPT saya bukan yang terendah, pernah mengalami floating loss berbulan-bulan. Namun karena tujuan saya awalnya adalah ingin mendapatkan dividen untuk passive income maka floating loss itu saya biarkan dan tidak banyak mempengaruhi psikologi saya apalagi secara fundanental laba bersih MLPT 2019 lebih baik dari pada laba bersihnya tahun 2018. Demikian juga saat fp 2 bagger, saya merasa biasa saja.

Meski pernah menikmati capital gain 177,5%, saat ini saya belum tertarik untuk trading. Impian saya yang paling utama di bursa saham masih sama yaitu mendapatkan passive income dari dividen. Agar passive income-nya cukup untuk hidup, saya harus aktif di luar bursa agar lebih banyak modal yang bisa saya tanamkan di bursa saham.

Bagi newbie yang baru masuk bursa saham karena terkena PHK atau karena WFH (work from home) sehingga punya banyak waktu perlu berpikir lebih jernih. Maksud saya jangan karena mendapatkan capital gain 30% dalam sebulan ini misalnya, bukan berarti capital gain yang akan didapatkan 10 bulan ke depan adalah 300% terus buru-buru memutuskan berganti profesi menjadi trader atau resign dari kantor. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan lebih matang.

Ketika orang masuk bursa saham kadang dihadapkan pada pilihan apakah mau full time di bursa atau menjadikan bursa untuk mendapatkan income tambahan. Keputusan harus dibuat secara matang bukan karena euforia seminggu dua minggu. Kalau menurut pendapat saya pribadi paling tidak ada dua hal utama yang harus dipertimbangkan adalah pertama ketersediaan waktu, kedua kecukupan modal.

Kalau waktu Anda tercurah di kantor Anda sebagai pegawai, rasanya trading saham kurang cocok untuk Anda. Karena mungkin atasan Anda atau perusahaan merasa ada yang kurang dari keseriusan dan kerja Anda di kantor yang bisa mengurangi penilaian kantor terhadap kinerja Anda. Akan lebih baik menjadi penabung saham yang mengincar passive income dari dividen daripada menjadi trader.

Kalau Anda pemilik bisnis bukan karyawan, mungkin trading saham cocok mungkin juga tidak. Tergantung apakah bisnis Anda bisa dilimpahkan kepada pegawai kalau Anda akan trading dan apakah hasil dari trading saham memadai. Kalau dalam 1 bulan terakhir untung 30% dari capital gain bukan berarti 10 bulan ke depan akan untung 300% dari capital gain.

Yang kedua yang perlu dipertimbangkan adalah besarnya modal sendiri atau ekuitas yang kita miliki. Kalau modal sendiri (uang dingin, bukan hutang) yang kita miliki masih kecil, trading saham kurang cocok, mungkin lebih baik nabung saham untuk mendapatkan passive income dari dividen.

by Hani Putranto