Bagaimana Cara Menghindari FOMO (Fear Of Missing Out)?

Dalam ilmu psikologi sosial, berkaitan dengan ekonomi perilaku, kelangkaan dapat terjadi pada segala hal, dan itu mempengaruhi pada frame of thinking dan frame of working.

Secara sederhana, kita manusia memberi nilai yang tinggi kepada hal-hal yang langka, dan menilai rendah hal-hal yang melimpah, dan ini tidak hanya berlaku untuk hal-hal yang bersifat fisik material, namun juga berlaku untuk hal-hal yang abstrak, seperti waktu, misalnya.

Persepsi kita terhadap kelangkaan dan kelimpahan ini mempengaruhi cara-cara kita mengambil keputusan, tindakan dan pola pikir. Orang yang mengalami kelangkaan waktu akan mengambil tindakan yang berbeda, dengan proses berfikir yang berbeda pula, dengan orang yang memiliki kelimpahan waktu, untuk objek permasalahan yang sama.

Dalam keadaan tertentu, kelangkaan-kelangkaan ini dapat menimbulkan bias kognitif, melumpuhkan rasionalitas kita dalam mengambil keputusan. Jika diibaratkan komputer, persepsi kelangkaan dan kelimpahan ibarat tumpukan proses yang datang dan pergi mengisi RAM di otak manusia. Semakin banyak persepsi kelangkaan yang kita alami, semakin penuh RAM, memberi prioritas dan urgensi tinggi pada persepsi-persepsi kelangkaan ini, menghambat proses-proses lain yang seharusnya dapat dikomputasi secara rasional oleh otak.

Orang yang sudah sangat lapar dan mungkin tidak punya tempat tinggal, memenuhi RAM di kepalanya dengan persepsi-persepsi kelangkaan ini, menghasilkan bias kognitif yang menghantarnya kepada tindakan-tindakan irasional seperi mencuri atau merampok sebagai solusi urgen atas kelangkaan yang ia alami.

Fear Of Missing Out (FOMO alias takut ketinggalan kereta), sebuah istilah dalam praktik investasi dan trading, adalah contoh lain bias kognitif yang diakibatkan oleh akumulasi kelangkaan yang kemudian memenuhi kapasitas memori kognitif kita, melumpuhkan kalkulasi raisonal dalam komputasi pengambilan keputusan: perubahan harga + waktu + jumlah barang.

Lalu bagaimana cara menghindarinya? Solusi “bodohnya” adalah dengan mengubah persepsi bahwa sesuatu itu langka menjadi melimpah. Pikiran manusia adalah ruang yang luas dan sangat fleksibel terhadap perubahan, yang dibutuhkan hanyalah kemauan.

Dalam kasus FOMO, misalnya, kita dapat mengubah persepsi bahwa waktu untuk membeli/menjual saham amat sempit dan terburu-buru (dus langka), diubah menjadi panjang dan santai (dus melimpah). Perubahan harga yang dipersepsikan konstan (dus harga yang diinginkan menjadi langka), diubah menjadi fluktuatif, memberi banyak kesempatan kepada harga kembali ke level yang disukai (dus melimpah).

Namun kenyataannya tidak semudah itu mengubah cara berfikir dan cara bertindak. Dibutuhkan latihan terus menerus, dengan kedisiplinan dan ketabahan, serta tumpukan pengetahuan.

Dalam kasus mencuri karena lapar misalnya. Seandainya si lapar memahami kondisi biologis tubuhnya dan mengetahui bahwa ia ternyata mampu menahan lapar untuk satu hari lagi, mungkin ia tidak akan terburu-buru mencuri/merampok, melainkan cukup mengemis saja, atau mencari pekerjaan cepat yang dapat menghasilkan uang untuk mambeli makan. Jika ia terbiasa dan terlatih berpuasa, bahkan “makan” itu sendiri bukan sebuah kelangkaan, dan lapar tidak akan menjadi konsekuensi yang berakibat buruk bagi dirinya.

Dalam investing/trading pun begitu. Untuk dapat “melapangkan dada”, mengubah persepsi bahwa “kesempatan adalah langka” menjadi “kesempatan sesungguhnya melimpah”, dibutuhkan latihan, entah lewat simulasi atau pengalaman nyata di medan pertempuran.

Orang-orang seperti Buffett, Burry, Livermore, Minervini dan Darvas telah melewati “pelatihan-pelatihan” ini, dan pengalaman mereka membawa mereka pada konklusi-konklusi seperti yang diucapkan Buffett “tidak memukul semua bola yang dilempar ke arahmu”, atau seperti tindakan Burry yang menunggu bertahun-tahun untuk melancarkan aksi short legendarisnya.

Namun yang utama bagi kita adalah mendahulukan dan meluruskan niat bahwa kita tidak akan lagi terjebak dalam persepsi akan kelangkaan sementara dalam kenyataan melimpah, menghindari diri dari terjerembab ke dalam bias kognitif yang membuat sistem komputasi di kepala kita semua tidak dapat beroperasi normal dan rasional. Tanpa adanya kekuatan niat, segala proses pelatihan dan akumulasi pengetahuan akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak dibutuhkan, dus dipersepsikan sebagai ekses alias kelimpahan, dan dinilai rendah oleh RAM di kepala, diletakkan di bagian paling belakang dari prioritas proses berfikir kita. Paradoks.

Maaf rambling.

Tabik.

joyistabella