Prinsip Dasar Investasi, Investasi Saham, dan Daftar 37 Emiten High Dividend Yield

Tujuan utama investasi apa pun adalah untuk mendapatkan keuntungan atau penghasilan (income) yang memadai. Hal itu bisa dicapai apabila dikelola dengan baik dan cerdas. Pada prinsipnya investasi yang berkaitan dengan pembelian aset itu bisa berhasil bila kita membeli di harga rasional dan prospeknya sangat cerah atau membeli di harga murah meski prospeknya biasa. Tentu investasi dengan membeli aset berbeda dengan investasi langsung untuk produksi atau bisnis lain di mana kita perlu mendalami permintaan produk atau jasa kita serta menekan berbagai biaya.

Di pasar tidak sedikit aset-aset yang harganya naik atau naik turun. Pada prinsipnya harga aset itu tidak selalu naik. Demikian juga tidak selalu turun kecuali aset yang membusuk atau baru ketahuan kalau aset itu busuk. Harga properti dan harga emas pun tidak selalu naik. Dulu sekitar tahun 2014, klien saya jual ruko di Grand Wijaya Kebayoran Baru seharga Rp 6,2 miliar. Setelah itu klien lain jual di harga Rp 5,9 miliar juga sulit. Artinya ada penurunan harga. Demikian juga harga emas, beberapa tahun lalu saat saya beli emas, orang di sebelah saya jual emas tabungannya dengan wajah murung karena harga belinya lebih tinggi. Pengalaman atau realitas ini jelas mematahkan suatu mitos bahwa harga properti atau emas selalu naik. Ada gelombang naik turun meski tidak semua orang tahu. Harga emas lebih transparan dan tersedia grafiknya. Untuk harga properti tidak mudah dicari tahu apa lagi grafiknya.

Gelombang naik turun juga terjadi pada harga saham. Harganya transparan dan tersedia dalam bentuk grafik bahkan grafik tipe candle stick yang umum dipakai sebagai dasar analisa teknikal. Sebagai instrumen investasi, saham lebih terjangkau oleh banyak orang dari pada properti. Dengan uang dingin Rp 100.000,- orang bisa menabung saham. Memang untuk bisa pilih sekuritas yang baik dan memadai perlu dana lebih dari itu. Tapi kebutuhan dana selebihnya bisa dicukupi dari dana yang tidak terlalu dingin yang bisa dibelikan Reksa Dana Pasar Uang seperti di sekuritas langganan saya. RDPU tingkat keamanannya hampir sama dengan deposito.

Kembali pada prinsip dasar investasi. Pada dasarnya investasi aset itu beli di harga murah atau harga rendah. Bagaimana menentukan suatu harga dikatakan murah? Di sinilah pentingnya kita memahami apa yang kita beli. Memang tidak mudah menentukan aset yang kita beli masih murah. Memang kadang ada perbedaan antara investor dan trader. Kalau trader lebih ke arah momentum: beli saat harganya akan naik.

Kalau saya pribadi lebih senang sebagai investor atau bahkan penabung saham yang mencari passive income dari dividen. Saya merasa telah berada di jalur yang benar, dan merasa nyaman dengan prinsip dasar maupun kebijakan investasi saya. Dari pengalaman saya tersebut saya rumuskan prinsip dasar investasi saya, ini pernah saya share dalam tulisan terdahulu.

Prinsip-prinsip saya dalam berinvestasi saham bisa saya ringkaskan sebagai berikut.

#1. Memakai uang dingin, uang yang tidak akan digunakan paling tidak dalam 3 tahun ke depan. Semakin dingin semakin baik.

#2. Kejarlah dulu passive income dari dividen sampai dividennya cukup.

#3. Lakukan screening dividend yield (DY). Ini adalah tahap PERTAMA yang penting.

Dasar pemikirannya:
Dividend yield tinggi terjadi karena harga rendah, kemungkinan PER, PBV, dan DER juga rendah. Ini sesuai prinsip dasar investasi, beli di harga rendah.

#4. Urutkan dari yang DY-nya tertinggi

#5. Pastikan bahwa dividen yang dibagikan berasal dari laba operasional BUKAN berasal dari jual aset yang hanya sekali saja seperti MERK atau MPMX. Bila berasal dari jual aset, buang dari daftar list hasil screening.

#6. Pastikan dalam 5 tahun terakhir tidak pernah rugi. Bila pernah rugi, buang dari daftar list hasil screening.

#7. Cek rasio-rasionya seperti ROE, DER, PBV, PER, Cash Ratio dll. Hitung juga AEPD-nya

#8. Pastikan GCG-nya baik

#9. Pelajari pertumbuhan EPS-nya

#10. Pilih 30-an emiten dari screening di atas yang fundamentalnya baik. Diversifikasi lebar dalam hold forever itu penting supaya bisa berbagi resiko dan berbagi likuiditas. Tidak semua yang fundamentalnya baik likuiditasnya tinggi. Tapi bagi retail yang ngejar passive income dari dividen, likuiditas tidak terlalu penting. Bagi retail seperti saya ADMF masih lumayan likuid tapi bagi big fund dianggap tidak likuid. Likuiditas itu relatif, dalam hal likuiditas jangan mengikuti standar big fund.

#11. Saat masuk (beli) perhatikan analisa teknikalnya dan gunakan money management

#12. Tetap memantau perkembangan EPS dan perkembangan fundamentalnya secara rutin per kuartal. Nabung Saham Berarti memahami fundamentalnya.

#13. Kalau bisa melakukan average down lakukan. Bila tidak pastikan peningkatan averege price harus lebih lambat dibandingkan peningkatan net income atau peningkatan EPS. Prinsip dasarnya: peningkatan net income atau EPS harus lebih kencang dibandingkan peningkatan harga. Selain itu, mempertahankan average price serendah mungkin juga berarti membantu manajemen resiko.

#14. Rutin melakukan screening saham berdasarkan tingginya dividend yield karena sering kita menemukan emiten yang harganya sudah masuk dan layak beli padahal setahun sebelumnya belum layak. Misalnya TCID atau TUGU, sekitar setahun lalu harganya masih tinggi DY nya belum menarik, tapi kini jadi menarik.

Memang dalam prakteknya kadang kita melakukan kesalahan. Misalnya saya pernah membeli PEHA yang ternyata harganya masih turun terus. Awalnya saya beli di sekitar Rp 2000,- harga turun terus. Saya mengatasinya dengan average down sampai harga average price saya sekitar Rp 1800,- Tapi harga masih turun terus. Saya biarkan. Dalam hal ini saya mengalami floating loss. Ketika harganya sekitar Rp 880,- saya beli lewat akun saya satunya sehingga harganya tidak dirata-rata. Selain itu saya beli lewat akun lain karena dana saya lebih sedikit, dari pada melakukan average down di akun yang average price-nya 1800 mending beli lewat akun lain, dapat di harga Rp 880,-. Kemudian saya melakukan average up karena saya yakin harga PEHA akan naik. Saya melakukan averge up sehingga harga PEHA saya Rp 922,50. Ini saya pertahankan sampai sekarang. Sementara PEHA di akun satunya yang average price-nya sekitar 1800 sudah saya jual semua, setelah mendapat dividen. Tidak cut loss. Dengan mempertahankan average price tetap rendah berart juga membantu manajemen resiko kita.

Dengan prinsip dasar investasi seperti saya ini, beberapa emiten portofilio saya sudah pernah mengalami one bagger (profit atau floating profit 100%). Selain PEHA di atas ada juga MLPT (yang sudah saya jual semua), TPMA, BBTN, dan ANTM. Umumnya masih saya pegang karena saya bukan pencari kapital gain tapi nyari passive income dulu. Selain itu alasan saya tidak menjualnya karena saya ragu apakah bisa beli lagi di harga average price yang saya miliki saat ini. Saya sudah merasa nyaman dengan prinsip saya saat ini.

Berikut ini daftar 37 emiten high dividend yield pilihan saya. Kalau ada yang belum saya masukkan seperti BISI atau emiten rokok silahkan ditambahkan sendiri. Tidak semua emiten ini EPS nya akan naik dibandingkan 2019. Dampak covid terasa pada beberapa emiten. Harus didalami dan dicermati sambil menunggu LK Q3 keluar.

Daftar Urutan 37 Emiten High Dividend Yield Berdasarkan Harga Tgl 16 Okt 2020

Berikut ini ini adalah urutan 37 emiten high dividend yield (gross) berdasarkan harga tanggal 16 Oktober 2020. Di belakang DY (Dividend Yield) saya cantumkan harganya. Jadi, misalnya tertulis MBAP DY2190 adalah 19% maka dibaca sebagai berikut: Bila MBAP harganya 2190 sama seperti harga 16 Oktober 2020 dan DPS-nya sama maka DY yang akan diterima investor adalah 19% (gross). DPS atau Dividend Per Share yang akan datang baru akan diketahui setelah ketuk palu RUPS yang akan datang. Pencantuman harga ini saya maksudkan agar mudah dijadikan pedoman, misalkan Anda baru menemukan tulisan saya ini tanggal 1 Desember 2020 maka Anda bisa bandingkan berapa harga tanggal 1 Desember Hari Selasa, atau berapa harga 30 November Senin-nya apakah lebih tinggi atau lebih rendah dari harga 16 Oktober 2020. Di samping itu juga perhatikan juga apakah LK Q3 sudah keluar atau belum untuk memperkirakan EPS (Earning Per Share) yang akan datang.

01. MBAP ➡ DY2190 adalah 19%
02. DMAS ➡ DY230 adalah 18,3%
03. HEXA ➡ DY3080 adalah 17,7%
04. PTBA ➡ DY2050 adalah 15,93%
05. ITMG ➡ DY8300 adalah 15,4%
06. IPCC ➡ DY390 adalah 14,3%
07. ADMF ➡ DY7575 adalah 13,9%
08. PANS ➡ DY805 adalah 12,4%
09. POWR ➡ DY590 adalah 11,3%
10. SPTO ➡ DY408 adalah 9,8%
11. MPMX ➡ DY356 adalah 9,8%*)
12. DLTA ➡ DY4010 adalah 9,7%
13. BJBR ➡ DY1035 adalah 9,1%
14. RALS ➡ DY565 adalah 8,8%
15. ASDM ➡ DY895 adalah 8,7%
16. CLPI ➡ DY655 adalah 8,6%
17. BJTM ➡ DY565 adalah 8,5%
18. LINK ➡ DY2130 adalah 8,4%
19. MYOH ➡ DY1140 adalah 8,4%
20. NRCA ➡ DY302 adalah 8,3%
21. BDMN ➡ DY2410 adalah 7,8%
22. ASGR ➡ DY705 adalah 7,7%
23. BNGA ➡ DY755 adalah 7,3%
24. TPMA ➡ DY332 adalah 7,1%
25. RANC ➡ DY406 adalah 6,9%
26. PBID ➡ DY880 adalah 6,7%
27. TCID ➡ DY6375 adalah 6,59%
28. BUDI ➡ DY93 adalah 6,45%
29. WEGE ➡ DY184 adalah 6,41%
30. BMRI ➡ DY5575 adalah 6,34%
31. CEKA ➡ DY1675 adalahv6%
32. WTON ➡ DY256 adalah 6%
33. TUGU ➡ DY1330 adalah 5,8%
34. JRPT ➡ DY422 adalah 5,7%
35. MDKI ➡ DY158 adalah 5,7%
36. TLKM ➡ DY2750 adalah 5,6%
37. BBRI ➡ DY3250 adalah 5,1%

*) Untuk MPMX, saya selalu menggunakan perhitungan berdasarkan DPS normal yaitu Rp 35,-

Discl selalu on. Jangan ikut-ikutan. Pahami dengan baik sebelum membeli. Sesuaikan dengan profil resiko dan kondisi Anda sendiri. Silahkan riset atau hitung sendiri. Kalau ada kesalahan saya dalam menghitung sifatnya tidak sengaja.

Source: HaniPutranto