Kapan Saat Yang Tepat Untuk Averaging Up dan Averaging Down?

Sering sekali banyak pertanyaan dari seorang investor maupun trader yang bertanya “Kapan sih saya harus melakukan averaging up maupun averaging down di pasar modal??

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebenarnya perlu dipahami prinsip anda ketika terjun ke pasar modal. Bagi seorang trader, prinsip utamanya adalah “Market discount everything”. Apa yang terjadi di pasar sudah mencerminkan semua informasi-informasi yang ada.

Bagi trader, mereka sebenarnya tidak perlu untuk mencari-cari “alasan” kenapa suatu saham harganya naik maupun turun. Tanpa melihat beritapun harga saham umumnya akan naik jika ada good news dan sebaliknya. Masalahnya seringkali berita itu datangnya telat, sehingga ketika investor / trader baru mengetahui berita tersebut, harga sahamnya sudah rally berhari-hari.

Bagi trader yang mengacu pada pergerakan harga di pasar, satu-satunya cara untuk melakukan manajemen risiko terhadap portofolionya adalah dengan melakukan “cutloss” di titik yang sudah ditentukan sebelumnya melalui trading plan yang sudah dibuat sebelum entry ke pasar. Sehingga, sebenarnya averaging down tidak relevan dan “HARAM” dilakukan oleh seorang trader.

Bagi trader, anda harus mengeksekusi sesuai trading plan, dan ketika anda melakukan averaging down, jelas bahwa anda belum memiliki psikologis trading atau kurang memahami prinsip-prinsip dasar melakukan trading. Averaging down dalam trading jelas akan membawa masalah besar bagi portofolio trading anda, cepat atau lambat. Lebih cepat anda menyadari hal ini maka akan lebih baik.

Pertanyaan selanjutnya, apakah sebagai trader anda harus melakukan averaging up? Jawabannya ya, harus!! Ketika anda berada di suatu saham dan saham tersebut sedang super bullish, maka anda harus mengikuti trend tersebut sampai dengan trend tersebut selesai. Namun anda juga harus memperhatikan satu hal lainnya. Ketika anda melakukan averaging up, anda juga harus menaikkan level stoploss anda. Never turn a winner into a losser!!

Berbeda halnya ketika anda membeli sebuah saham dengan pendekatan fundamental atau yang sering kita sebut berinvestasi saham. Pada catatan-catatan sebelumnya yang sepertinya tidak perlu saya ulang di catatan ini, sebagai investor saham anda tentu harus melakukan riset mengenai kinerja perusahaan tersebut. Dalam setiap lembar saham ada kinerja perusahaan dibaliknya.

Bagi investor, ketika ada penurunan harga saham berarti risiko atas saham tersebut semakin berkurang. Tak ubahnya seperti sebuah properti yang lokasinya strategis dan sedang dijual oleh pemiliknya. Maka bagi investor hal tersebut justru membuatnya menyadari bahwa ini saatnya membeli properti tersebut, bukan malah menjualnya. Semakin rendah harga beli sahamnya, maka expected returnnya juga semakin tinggi, begitupun dengan yield dividennya.

Namun bagi seluruh pelaku pasar, baik trader maupun investor, tak ada satupun yang tahu kapan suatu saham akan berhenti turun. Semua metodologi hanya bersifat prediksi atau bahkan tebak-tebakan. Sehingga bagi investor sangat penting melakukan money management yang baik untuk menyiasati hal tersebut. Caranya bagaimana?? Dengan melakukan diversifikasi saham dan dengan melakukan pembelian bertahap (averaging down) sesuai money management yang sudah disusun.

Penting dilakukan oleh investor untuk membangun portofolionya dengan komposisi tertentu (berapa % maksimal untuk sebuah saham, berapa kali untuk masuk ke sebuah saham ketika terjadi penurunan, alokasi asset ke beberapa instrument yang memiliki lower risk, dll). Singkat cerita, averaging down wajib dilakukan oleh seorang investor sepanjang mereka telah melakukan riset dan money management yang baik.

Semoga bermanfaat!!

Sumber: @investor_milenial20