Tips Memilih Perusahaan Yang Baik

Halo Investor milenial, pada catatan kali ini tim investor milenial akan berbagi tips cara untuk memilih saham dengan fundamental yang baik. Pada Part 1 ini kita akan membahas karakteristik perusahaan yang baik tanpa memperhatikan laporan keuangan. Pada part 2 nanti kita akan membahas karakteristik perusahaan yang baik dengan memperhatikan variable-variabel laporan keuangan perusahaan.

1. Memilih perusahaan dengan posisi price maker, bukan price taker

Untuk memilih perusahaan yang baik, penting untuk memahami bisnis perusahaan tersebut. Perusahaan yang bergerak di sektor komoditas seperti minyak, emas, nikel, batubara dsb pergerakan harganya dipengaruhi oleh harga komoditas global sehingga perusahaan-perusahaan dengan karakteristik seperti ini cenderung memiliki laba yang tidak konsisten.

Berbeda dengan perusahaan consumer goods misalkan ICBP dimana mereka sendiri dapat menentukan harga jual produk mereka, sehingga ketika terjadi kenaikan biaya produksi, perusahaan dapat dengan segera menyesuaikan harga jual produk mereka. Perusahaan dengan karakteristik seperti ini biasanya memiliki pendapatan yang konsisten dan bertumbuh setiap tahunnya.

2. Perusahaan yang bisnisnya, konsumen akhirnya adalah masyarakat banyak

Perusahaan yang memiliki bisnis dengan pelanggan masyarakat banyak memiliki keuntungan dimana ketika terjadi permasalahan terhadap salah satu konsumennya, maka tidak akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Coba bandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang pelanggannya dalam bentuk kontrak-kontrak besar dan hanya kepada beberapa pihak saja. Ketika terjadi masalah terhadap pelanggannya, maka akan membawa masalah bagi perusahaan.

Coba anda bayangkan konsumen produk internet dari TLKM atau indomie dari ICBP. Ketika salah satu konsumen mengalami masalah ekonomi, dan menghentikan konsumsi mereka terhadap produk produk mereka, tidak akan membawa masalah bagi perusahaan karena pada dasarnya basis pelanggan mereka adalah masyarakat luas.

Sekarang kita bandingkan dengan perusahaan konstruksi seperti WSKT, kebanyakan pelanggan mereka adalah kontrak-kontrak dengan jumlah yang besar. Ketika ada masalah pembayaran dari pelanggan mereka, maka akan membawa masalah besar bagi perusahaan.

3. Perusahaan yang tidak memiliki masalah hukum

Perusahaan yang memiliki sejarah masalah hukum merupakan sinyal buruk bagi investor, dimana ada masalah ketidakjujuran dari pihak manajemen dalam menjalankan perusahaan. Selain itu ketika terjadi masalah hukum bagi perusahaan (terutama akibat pelanggaran regulasi), bisa jadi masalah yang terjadi lebih besar dari apa yang kita ketahui, baik dari berita maupun informasi lainnya.

Bayangkan jika anda adalah pihak manajemen perusahaan, dan perusahaan anda sedang mengalami masalah hukum, yang anda lakukan pasti berusaha meyakinkan investor bahwa perusahaan sedang baik-baik saja dan berusaha memframe bahwa masalah tersebut dalam under control manajemen. Padahal seringkali masalah yang terjadi lebih parah dari apa yang diceritakan oleh pihak manajemen.

Untuk kasus ini teman teman bisa belajar dari kasus AISA yang pada akhirnya kasusnya jauh lebih buruk daripada apa yang diceritakan oleh manajemen di awal-awal kasus penggerebekan oplosan beras diungkap oleh kepolisian.

4. Perusahaan yang konsisten membagi dividen

Mungkin teman teman pernah mendengar quotes “profit is just opinion, cash is a fact”. Prinsip-prinsip akuntansi memungkinkan hal tersebut dapat terjadi, dimana ketika penghitungan laba bisa menghasilkan laba yang berbeda-beda karena metodologi penghitungan laba bisa berbeda-beda.

Akan tetapi aliran cashflow perusahaan bersifat nyata dan real. Sehingga bagi kita sebagai investor, ketika perusahaan konsisten dapat membagi laba sejumlah persentase tertentu dari jumlah laba tersebut menjadi sinyal bagi kita bahwa laba perusahaan tersebut juga diikuti dengan aliran kas.

Memang pembagian dividen akan mengurangi daya perusahaan dalam melakukan ekspansi bisnis (contoh pembagian dividen BBRI dan BBCA) akan tetapi pembagian dividen yang teratur menunjukkan pihak manajemen dapat memanage aliran kas perusahaan dengan baik.

Lain hal ketika perusahaan membagi dividen dengan menerbitkan pinjaman padahal perusahaan dalam kondisi laba positif. Hal ini menjadi alarm bagi kita sebagai investor. Menurut kami perusahaan yang baik biasanya membagi dividen dengan konsisten dengan DPR 20%-50% sehingga ada keseimbangan antara ekspansi perusahaan dengan sinyal manajemen (bahwa laba tsb juga diikuti dengan aliran kas dan manajemen kas yang baik).

Beberapa perusahaan baik memang membagi dividen DPR 100% (UNVR dan HMSP), tapi hal ini lebih karena perusahaan-perusahaan tersebut memang masuk dalam super efficient company yang mungkin kita bahas lagi di catatan lain.

5. Perusahaan yang sebagian besar sahamnya bukan dimiliki oleh publik

Jika anda memiliki perusahaan yang baik, apakah anda mau menjual perusahaan tersebut kepada orang lain? Kasus privatisasi AQUA atau saham saham gocap yang sebagian besar kepemilikan dimiliki oleh publik bisa menjadi gambaran bagi anda.

6. Perusahaan yang melakukan buyback ketika terjadi penurunan harga saham yang signifikan

Hal ini masih berkaitan dengan poin 5, yaitu pihak manajemenlah yang paling mengetahui prospek dari perusahaan. Ketika terjadi penurunan harga saham perusahaan, sementara manajemen yang paling mengetahui bisnis perusahaan melihat hal tersebut, maka manajemen akan melakukan buyback sahamnya karena mereka mengetahui bahwa apa yang terjadi di pasar tidak mencerminkan apa yang diketahui manajemen.

Sumber: @investor_milenial20