Kekonyolan Market Dalam Memaknai Berita

Sebenarnya aliran yang paling banyak diikuti oleh market bukanlah analisa fundamental seperti value investing / growth investing. Bukan juga analisa teknikal. Aliran yang paling banyak diikuti adalah lihat berita bagus maka beli sahamnya dan lihat berita jelek maka jual sahamnya.

Beberapa hari belakangan banyak saya lihat kekonyolan market dalam memaknai berita:
– membaca headline akan balik batas arb normal, padahal kalau dilihat isi beritanya itu tentang Maret lalu.
– sampai ada yang parah di salah satu group telegram sempat ramai sebar berita pakde (Presiden Jokowi) positif covid-19 yang definitely hoax sampai dimarahin admin.
– berita sanggahan gubernur favorit banyak orang tidak terindikasi covid
– bahkan yang paling konyol yang memiliki nama belakang batubara tertangkap KPK dianggap sebagai sentimen negatif untuk sektor tambang batu bara.

Come on guyz, saat ini kita harus berterima kasih pada pembuat regulasi dengan batas arb cuma 7%. Sejujurnya saya berharap regulasi ini jalan terus karena tentu saja ini kondisi yang baik untuk investor yang sudah ada barang. Tetapi regulasi arb 7% pasti akan diangkat dan batas bawah akan menjadi puluhan persen lagi. Entah kapan itu terjadi. Ketika ini terjadi maka saya yakin banyak pelaku pasar baru yang akan melihat bertapa seramnya market ini.

Membeli saham hanya karena melihat gambar kedatangan pesawat sungguh bukan hal bijak. Bedakan mana berita yang bersifat market risk ataupun company risk.

Sebagai investor kita memang harus berhati-hati jika berita yang muncul bersifat company risk. Kita bisa melihat peluang jika berita yang muncul bersifat market risk only. Ketika market lagi optimis akan selalu muncul berita yang berusaha mempengaruhi anda ke action yang diharapkan.

Ingat realita yang ada di dalam saham:
– jika orang lain memasang posisi buy artinya orang lain berharap membeli saham anda dengan harga lebih murah
– jika orang lain memasang posisi sell artinya orang lain berharap mengambil uang anda lebih banyak untuk membayar saham mereka.

Di dalam market ini semua orang ingin meraih keuntungan atas orang lain. Itulah realita didalam pasar saham. Sehingga ketika harus melihat influencer-influencer besar berusaha menggerakkan market dengan berbagai cara maka saya bisa maklum. Karena mereka di saham memang cari untung dan bukan bantu anda dapat untung.

Tapi kan anda bayar agar mereka bantu anda dapat untung. Hmm.. Yang bener sih, anda bayar mereka agar mereka tambah untung. Itu memang pintarnya mereka dan kalimat selanjutnya tidak saya buat…….

Regulator ataupun influencer tidak bisa melindungi dana anda didalam pasar saham. Hanya anda yang bisa melindungi diri anda di pasar saham.

by thowilz