Bagaimana Memaknai Kalimat “Don’t Put Your Eggs On One Basket?”

Dalam sebuah diskusi, sering sekali muncul pertanyaan “Sebagai seorang investor, berapa saham sebaiknya yang ideal dalam portofolio saya?”

Catatan ini mungkin akan membantu anda dalam menyusun portofolio anda. Tentu tidak ada jawaban mutlak mengenai berapa saham yang ideal dalam suatu portofolio. Argumentasi dan prinsip-prinsip dasar berinvestasi sebenarnya menjadi kunci bagi seorang investor dalam menentukan jumlah saham dalam portofolionya. Argumentasi berikut mudah mudahan bisa membantu.

1. Sering sekali anda mendengar “Don’t put your eggs on one basket”. Quotes ini sering digunakan untuk menggambarkan pentingnya melakukan diversifikasi dalam mengelola suatu portofolio saham. Seringkali kalimat ini dimaknai oleh seorang investor dengan menyebar sahamnya menjadi lebih dari 20 atau bahkan 30 saham tanpa memahami dengan utuh kalimat tersebut. Investor seperti ini memahami bahwa dengan membagi portofolionya menjadi 20 atau 30 saham, ketika nantinya ada satu saham bermasalah maka portofolionya tidak akan ikut bermasalah karena dia masih mempunyai banyak saham yang dapat mengcover kerugian dari satu saham bermasalah tersebut.

2. Sekarang mari kita lihat lebih jauh, apakah cara tersebut sebenarnya efektif atau tidak dalam memanage risk sebuah portofolio. Pengalaman di tahun 2020 ini mengajarkan bahwa dengan membagi portofolio ke dalam banyak saham justru tidak efektif untuk menjaga drawdawn (penurunan nilai portofolio total). Ketika terjadi bear market, maka hampir keseluruhan saham akan turun, entah bigcaps, small caps dari semua sektor, sehingga ketika anda membagi portofolio anda ke dalam banyak saham, maka kinerja portofolio anda juga akan turun karna PASTI sebagian besar dari saham yang anda koleksi nilainya juga turun.

3. Jika kita melihat koleksi portofolio Warren Buffet, anda akan melihat bahwa dari total portofolio saham Berkshire, sekitar 80% diwakili oleh 7 saham (Apple, American Express, Bank of America, Coca cola, Visa, Wells Fargo dan JP Morgan). Sebagai informasi, saat ini perusahanan yang listing di Amerika lebih dari 5000 an saham. Artinya kinerja portofolio saham Buffet hanya akan ditentukan oleh kinerja 7 saham ini. Terlihat bahwa sebenarnya Buffet dalam berinvestasi saham lebih melakukan focus investing, dimana dia hanya membeli perusahaan-perusahaan baik menurutnya meskipun jumlah emitennya tidak banyak. Jika perusahaan baik yang bisa dibeli dengan harga yang baik saat ini ada cuma 5, mengapa memaksakan untuk membeli saham lebih dari 5??

4. Jika demikian, bagaimana memaknai kalimat “Don’t put your eggs on one basket” agar relevan dengan situasi market di 2020 ini? Dengan cara menginvestasikan dana ke beberapa asset dengan tingkat risiko yang berbeda-beda. Mengenai hal ini sebenarnya sudah pernah saya tulis di tulisan sebelumnya.

5. Jika teman -teman melihat laporan keuangan Berkshire Hathaway (Perusahaan Warren Buffet), per Maret 2020 kemarin, Buffet masih menyimpan cash dan setara cash $138 Milyar (sekitar 40% portofolionya), hal ini yang membuat WB sering ditanya pada saat RUPS oleh investornya, “mengapa anda menyimpan begitu banyak cash saat ini? Memegang cash begitu banyak akan memperlambat pertumbuhan portofolio anda! Buffet menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban kira-kira seperti ini “Saat ini saya belum menemukan perusahaan yang layak untuk saya investasikan, sehingga posisi saya akan tetap seperti ini sampai saya menemukan perusahaan tersebut”.

6. Kekuatan memegang cash ini, bisa jadi kunci WB dalam mempertahankan kinerja portofolio. Dengan segala keterbatasannya sebagai big fund investor, dia mampu meraih CAGR 20% selama lebih dari 50 tahun berinvestasi di pasar modal. Fantastis!!!

Sumber : @Investor_milenial20