Analisa Fundamental vs Analisa Teknikal

2.700 tahun yang lalu Sun Tzu menulis “The Art of War” alias “Seni Berperang” dan sampai sekarang masih dibaca. Sebaliknya, 2.700 tahun dari sekarang belum tentu Harry Potter masih dibaca, walaupun total penjualan dari ketujuh buku Harry Potter melebihi 500 juta copy.

Alasannya, selera orang berubah. Dulu saya suka sekali Harry Potter. Saya punya 14 bukunya, 7 dalam Bahasa Indonesia, 7 dalam Bahasa Inggris. Kalo nggak karena J. K. Rowling, kemampuan bahasa Inggris saya gak akan sebagus ini. Tetapi, sekarang saya sudah tidak begitu tertarik membaca serial kelanjutan Harry Potter. Mungkin 2.700 tahun dari sekarang, Harry Potter malah sudah “out of fashion” sama sekali.

Sementara yang ditulis di “The Art of War” itu sifatnya kekal. Part of the reason why we still read “The Art of War” is the timeless wisdom of know yourself, know your enemy. Kenali diri Anda, kenali musuh Anda, itu masih berlaku sampai sekarang, dan kayaknya masih berlaku sampai dunia kiamat.

Bahkan, yang ditulis di “The Art of War” itu ternyata juga berlaku di trading dan investasi. Kalau Anda nggak percaya, digoogle aja. Banyak loh yang bikin “The Art of War for Traders”. Dan Anda boleh percaya, boleh nggak percaya. Tapi di dalam buku-buku itu, analisa fundamental (FA) dan analisa teknikal (TA) selalu dicampur.

Analisa fundamental itu ibarat Anda datang ke toko, menilai kualitas produk yang dijual, kemampuan sales dalam menawarkan, desain interior eksterior dari toko tersebut, serta seberapa strategis lokasinya.

Kalo Anda ngerti fundamental, paham seluk-beluknya, Anda akan kalah apabila Anda melawan orang yang ngerti fundamental dan teknikal. Kenapa? Karena Anda nggak tahu kapan orang-orang akan datang menyerbu toko itu dan melakukan pembelian kayak duit besok nggak ada harganya. Dan kapan orang-orang yang sama, meninggalkan toko tersebut, untuk menyerbu toko lain.

Karena analisa teknikal itu ibarat Anda datang ke toko, menilai perilaku pembeli, jumlah pembeli, panjangnya antrian, dan berapa lama orang menghabiskan waktu untuk membeli.

Jadi kalo Anda ngerti teknikal, paham seluk-beluknya, Anda akan kalah juga melawan orang yang ngerti fundamental dan teknikal. Karena Anda tahu kapan orang memborong barang di toko itu habis-habisan, tapi Anda nggak ngerti barang yang dijual itu bagus atau nggak. Jadi bisa aja habis sehari penuh diborong, beberapa hari kemudian direfund. Dan Anda dihajar babak belur.

Jadi jujur saya kadang merasa geli kalau melihat ada penganut aliran fanatik, menyerang aliran lain habis-habisan. Rasanya tuh ya, kayak ngeliat pejuang Sunda Empire melawan pejuang Dimas Kanjeng. Kenapa kok nggak dipelajarin keduanya aja, jadi Anda bisa menguasai empat elemen (api air tanah angin) sekaligus ilmu melipat gandakan uang.

“Contoh aslinya ada Koh?” Ou ada, ada, bahkan banyak sekali.

Contohnya kemarin AGRO. Anda boleh bilang kenaikan harga AGRO absurd. Nggak masuk akal. Nggak realistis. Alasannya? BVPS AGRO cuma 200, tapi harga sahamnya bisa sampe 1110. Brarti diperdagangkan di 5,5x nilai buku. BRI aja cuma 2,64. Bahkan BRIS aja cuma 4,12.

Tapi kalo Anda ngerti teknikal, justru Anda malah suka sama AGRO. Kenapa? Karena ada pihak-pihak yang melakukan pembelian, kayak besok duit nggak ada harganya.

Anda boleh percaya, Anda boleh nggak percaya, tapi di grup Pakdhe @hmasori ada orang yang pegang AGRO sejak harganya 280. Alasannya? AGRO membentuk pola High Tight Flag. https://bit.ly/3mvOx9P

Setelah membentuk high tight flag, AGRO kepentok di 414. Dan turun. Lalu merangkak naik perlahan-lahan dan rally sampe 535. Lalu kali ini turun dengan lebih tajam.

Di sini, kalo Anda cuma ngerti teknikal aja, cuan Anda stop. Karena Anda butuh analisa fundamental untuk memahami apa yang terjadi, setelah harga AGRO naik dari 350 sampe 400, ada rumor bahwa yang dimerger dengan Pegadaian dan PNM itu bukan BRI. Karena BRI terlalu besar.

Yang dimerger adalah AGRO. Ekuitas AGRO cuma 4,2T. Sementara ekuitas Pegadaian 24T. 6 kali lipatnya. Dan ekuitas PNM 4T. Jadi ditotal, BVPS AGRO setelah merger adalah sekitar 1600. Belum dikurangi kenaikan jumlah saham, karena saham PNM dan Pegadaian kan pasti diubah jadi saham AGRO.

Dengan meleburkan ketiga perusahaan tersebut, BRI nggak perlu repot2 melakukan roadshow, mencari underwriter, menawarkan prospektus ke investor-investor. Bisa aja investor minta ada deal-dealan di balik layar. Minta uang rokok lah, minta di entertain lah. Minta harga sahamnya ditarik naiklah habis IPO. Udah repot, cape, bayar, bisa melanggar hukum pula.

Kenapa harus repot kalo Pegadaian itu daging tebal. Pegadaian itu salah satu BUMN terbaik. Pegadaian itu literally monopoli. Anda nggak percaya? Coba aja sebut satu nama pegadaian yang dikenal banyak orang, selain PT Pegadaian. Ada emangnya? Hahaha. Liat aja laporan keuangan Pegadaian, pas covid lagi parah-parahnya laba mereka malah naik.

Dan sekarang Anda liat harga AGRO berapa? Banyak sekali orang yang nanya ke saya, “Koh, masih bisa beli AGRO nggak?” Jawaban saya sama. πŸ˜…

Fundamental AGRO masih sama sejak ada wacana BRI mencaplok Pegadaian, tetapi harganya udah naik 14 kali lipat. AGRO udah 13 bagger. Dan itu sifatnya masih rumor. Sekali rumor itu dibantah, harganya hancur. Dan BRIS kakaknya AGRO sempet mentok di level 1000. Baru setelah itu turun sampe 700, menunggu konfirmasi atas rumor.
Dan BVPS AGRO setelah dimerger akan lebih rendah dari 1600, karena jumlah saham beredarnya akan ditambah dengan saham Pegadaian dan PNM yang dikonversi menjadi saham AGRO.

Jadi kalo Anda mau beli, do it at your own risk. Saya nggak mengajak membeli di level ini, saya sudah mengajak beli sejak harganya 446. https://stockbit.com/post/4909050

Saya cuman mau menjelaskan aja, bahwa FA + TA itu lebih kuat daripada aliran Dimas Kanjeng vs aliran Sunda Empire πŸ™‚

sumber: Hauw2x