Why people like IPO stock?

Ada 2 mekanisme perusahaan mendapatkan uang dari investor secara cepat. Yaitu dengan IPO (Initial Public Offering untuk perusahaan yang belum listing) dan Right Issue (menerbitkan jumlah lembar saham baru, bagi perusahaan yang sudah listing).

Apakah membeli perusahaan yang baru listing (IPO) direkomendasikan? Tentu hal ini bergantung pada harga yang ditawarkan pada saat itu apakah menarik antara risk and reward yang kita peroleh. TETAPI…

Secara umum membeli saham IPO harus dilakukan dengan metode yang lebih cermat dan teliti dibandingkan dengan perusahaan yang sudah lama listing di bursa. Mengapa pemilihannya harus lebih cermat? Karena banyak sekali celah yang merugikan bagi investor tetapi menguntungkan bagi perusahaan IPO atau bagi underwriter perusahaan tersebut.

20 – 25 tahun yang lalu pada saat bursa IHSG masih muda, banyak perusahaan besar (pada jamannya) di Indonesia yang melakukan IPO. Perusahaan ini memiliki economic moat yang tinggi di sektornya masing-masing dan merupakan leading company. Seiring dengan berjalannya IHSG tentu sulit untuk menemukan perusahaan baru yang memiliki niche market khusus dan leading di sektor atau subsektornya. Saham-saham IPO yang melantai di bursa sekarang semakin lama semakin banyak perusahaan kecil yang tidak memiliki niche market khusus dan sulit untuk dianalisa apakah akan berkembang dengan baik atau tidak.

Why people like IPO stock? Saham IPO biasanya dikenal oleh trader sebagai cara cepat mendapatkan profit. Biasanya pada hari pertama IPO, saham IPO akan bergerak liar entah naik atau turun. Naik mungkin karena ekspektasi pasar yang tinggi akan kemampuan perusahaan mencetak laba (yang belum terbukti secara historis).

Permasalahan Bull Market

Biasanya agar underwriter dan perusahaan yang IPO mendapatkan uang yang banyak dari IPO, kegiatan ini dilakukan pada saat Bull Market. Pada saat Bull Market, semua harga saham akan mahal termasuk saham murahan pun menjadi mahal. Terlepas dari saham IPO tersebut memang memiliki fundamental yang baik atau tidak, kemungkinan harga yang akan kita bayar adalah harga yang diatas rata-rata.

Prospektus saham yang bisa misleading

Perusahaan IPO biasanya menampilkan prospectus yang baik bagi para calon investor di perusahaan IPO tersebut. Prospektus dan data keuangan perusahaan biasanya yang ditampilkan mengenai kelebihan perusahaan tersebut. Mengaudit laporan keuangan historis dari perusahaan private (sebelum IPO) tentu menjadi PR khusus bagi calon investornya.

Sebagai komparasi, perusahaan GIAA (Garuda Indonesia) yang sudah memakai auditor publik saja bisa dimanipulasi, apalagi perusahaan private yang mau IPO. Ini memerlukan check and recheck khusus terhadap laporan keuangan apakah ada yang aneh dalam lapkeu tersebut, untuk memastikan harga yang kita bayar tidak jauh berlebihan. Seperti membeli produk pada umumnya, pasti yang ditawarkan pada pembeli adalah hal yang baik, bukan yang negative.

Mengapa laporan keuangan bisa dimanipulasi dan untuk apa? Tentu untuk perusahaan IPO tesebut atau untuk kepentingan sebagian kecil orang. Harga IPO yang tinggi tentu akan menguntungkan perusahaan tersebut, yaitu akan mendapatkan uang yang lebih besar pada saat IPO.

Atau untuk kepentingan sebagian orang yang sudah memiliki saham di perusahaan tersebut. Ada celah di bursa kita, yaitu harga terendah adalah Rp 50/lembar. Misalnya jika perusahaan memiliki nilai wajar Rp 30/lembar lalu dijual dengan harga Rp 100/lembar, dan misalkan harganya turun ke Rp 50 /lembar, apakah tidak untung orang yang memiliki saham tersebut? Serendah-rendahnya dapat keuntungan Rp 20/lembar.

– Membeli saham IPO bukan tidak boleh dilakukan, namun perlu dilakukan research lebih dalam mengenai perusahaan ini dengan harga yang wajar untuk dibeli.

– Biasanya fundamental investor sangat jarang membeli saham IPO karena ada kepentingan yang bersebrangan dengan kepentingan underwriter atau perusahaan yang mau IPO tersebut. Perusahaan yang akan IPO kemungkinan besar akan menaruh harga yang premium untuk mendapatkan uang yang besar pada saat IPO. Sedangkan fundamental investor ingin membeli pada saat harga murah, ditambah lagi faktor spekulatif dari saham IPO termasuk tinggi sehingga harga yang dibayarkan harus lebih rendah supaya memiliki margin of safety yang cukup.

sumber: likusaham